Jumat, 21 Maret 2025

Analisis Citra Interferometri SAR (InSAR) Gunung Lewotobi: Indikasi Deformasi Permukaan dalam 12 Hari

Analisis Citra Interferometri SAR (InSAR) Gunung Lewotobi: Indikasi Deformasi Permukaan dalam 12 Hari  
Oleh: @infomitigasi 


Pendahuluan  
Gunung Lewotobi, terletak di Flores, Nusa Tenggara Timur, merupakan gunung berapi aktif dengan sejarah erupsi yang signifikan. Pemantauan deformasi permukaannya penting untuk mendeteksi tanda-tanda awal aktivitas vulkanik. Citra interferometri SAR (InSAR) dari satelit radar menjadi alat krusial dalam mengukur perubahan elevasi permukaan dengan akurasi sentimeter. Analisis ini menggunakan data InSAR dari periode 8 Maret 2025 hingga 20 Maret 2025 (selisih 12 hari), yang menunjukkan pergerakan permukaan mencolok di sekitar kawasan gunung tersebut.



Metode dan Data
 
Data diambil dari dua citra satelit dengan parameter:  
- **Tanggal Akuisisi**: 8 Maret 2025 (referensi) dan 20 Maret 2025 (sekunder).  
- **Selang Waktu (Δt)**: 12 hari.  
- **Polarisasi**: VV (vertikal-vertikal).  
- **Resolusi**: Diperkirakan tinggi, dengan citra zoom ("_zoom") yang menampilkan area spesifik secara detail.  

Teknik InSAR digunakan untuk menghasilkan interferogram, yang mengukur perbedaan fase gelombang radar antara dua akuisisi. Perubahan fase ini dikonversi menjadi perpindahan permukaan relatif terhadap satelit, dengan arah "menuju radar" (uplift/naik) atau "menjauh dari radar" (subsidence/turun). Nilai deformasi dinyatakan dalam sentimeter (cm).

Hasil

1. **Deformasi Signifikan**:  
   - **Area Utama**: Perpindahan **2,8 cm menuju radar** terdeteksi, diikuti oleh **2,8 cm menjauh dari radar** di area berbeda (Gambar 1).  
   - **Area Zoom (Gambar 2)**: Pergerakan 2,8 cm menuju radar dengan kode "1T", yang mungkin merujuk pada orbit satelit "Track 1" atau jenis pemrosesan tertentu.  

2. **Pola Deformasi**:  
   - Kombinasi uplift dan subsidence dalam periode singkat (12 hari) mengindikasikan dinamika sumber tekanan bawah permukaan.  
   - Pola ini konsisten di kedua citra, mengurangi kemungkinan noise atau artefak atmosferik.  

Analisis dan Interpretasi

1. **Aktivitas Vulkanik**:  
   - Deformasi menuju radar (uplift) sering dikaitkan dengan inflasi magma di bawah permukaan, sementara subsidence mungkin menunjukkan pelepasan tekanan atau drainase magma.  
   - Perpindahan simetris (2,8 cm) dalam waktu singkat menunjukkan aktivitas magmatik intensif, mungkin akibat intrusi atau migrasi fluida vulkanik.  

2. **Konteks Geologi**:  
   - Gunung Lewotobi memiliki sistem magma dangkal berdasarkan erupsi historis. Inflasi 2,8 cm dalam 12 hari termasuk tinggi untuk gunung api, menandakan akumulasi magma cepat di reservoir.  
   - Pola deformasi campuran (uplift-subsidence) bisa merefleksikan interaksi antara reservoir magma utama dan retakan sekunder.  

3. **Potensi Noise**:  
   - Kesalahan pengukuran akibat turbulensi atmosfer atau perubahan kelembaban tidak dapat sepenuhnya diabaikan. Namun, konsistensi antar citra memperkuat validasi deformasi.  

4. **Implikasi Mitigasi**:  
   - Deformasi ini merupakan sinyal peringatan dini. Pemantauan seismik, gas vulkanik, dan survei GPS lapangan diperlukan untuk konfirmasi.  
   - Jika tren berlanjut, potensi erupsi dalam beberapa minggu/bulan perlu diantisipasi.  

Kesimpulan 

Citra InSAR Gunung Lewotobi periode Maret 2025 mengungkap deformasi permukaan signifikan (±2,8 cm) dalam 12 hari, diduga terkait aktivitas magmatik bawah permukaan. Kombinasi uplift dan subsidence menunjukkan dinamika kompleks yang memerlukan investigasi lebih lanjut. Hasil ini menegaskan peran kritis InSAR dalam pemantauan gunung api, meskipun integrasi dengan data multidisiplin tetap esensial untuk mitigasi risiko yang akurat.  

**Referensi Saran**:  
- Penggunaan data GPS lapangan untuk validasi deformasi.  
- Analisis gas vulkanik (SO₂, CO₂) untuk mendeteksi aliran magma.  
- Pemodelan sumber tekanan menggunakan inversi data InSAR.  
 
**Catatan**: Artikel ini bersifat preliminer dan ditujukan untuk komunitas ilmiah. Rekomendasi evakuasi atau status gunung api harus merujuk pada otoritas resmi (PVMBG/Badan Geologi).