Tampilkan postingan dengan label Laporan Gunung Api. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Gunung Api. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 November 2024

Jumlah Pemantau Gunung Api di Indonesia: Tantangan dalam Menjaga Keselamatan Masyarakat


Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan aktivitas vulkanik yang tinggi, memiliki tanggung jawab besar dalam memantau dan mengelola risiko bencana gunung api. Di antara ratusan gunung api aktif di Indonesia, gunung api tipe A, dengan catatan letusan sejarah yang relatif baru, menjadi fokus utama pemantauan. Namun, jumlah pemantau gunung api yang ada saat ini masih jauh dari kata ideal untuk menjamin keamanan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api.

Ketidakseimbangan yang Mengkhawatirkan
Jumlah gunung api tipe A di Indonesia mencapai 76 buah. Angka ini menunjukkan betapa besar potensi ancaman erupsi yang dihadapi negara kita. Sayangnya, jumlah pemantau gunung api yang tersedia saat ini masih sangat terbatas. Ketidakseimbangan antara jumlah pemantau dan jumlah gunung api tipe A ini menimbulkan beberapa permasalahan krusial.

Dampak Negatif dari Ketidakseimbangan
 * Keterbatasan Data: Kurangnya pemantau mengakibatkan keterbatasan data terkait aktivitas vulkanik gunung api. Data yang tidak lengkap membuat sulit bagi para ahli vulkanologi untuk melakukan analisis yang akurat dan memprediksi potensi erupsi.

 * Respons Kedaruratan yang Lambat: Ketika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik atau bahkan erupsi, respons darurat seringkali terhambat karena kurangnya data real-time. Akibatnya, masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana tidak mendapatkan peringatan dini yang memadai.

 * Kerugian Materil dan Immaterial: Erupsi gunung api dapat menyebabkan kerugian materiil yang sangat besar, seperti kerusakan infrastruktur, lahan pertanian, dan pemukiman. Selain itu, erupsi juga dapat menimbulkan kerugian immateriil, seperti trauma psikologis bagi korban dan terganggunya aktivitas sosial ekonomi masyarakat.

Faktor Penyebab Ketidakseimbangan
 * Anggaran yang Terbatas: Pemantauan gunung api membutuhkan anggaran yang cukup besar untuk pengadaan peralatan, pemeliharaan, dan operasional. Keterbatasan anggaran seringkali menjadi kendala utama dalam meningkatkan jumlah pemantau.

 * Ketersediaan Sumber Daya Manusia: Selain anggaran, ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten di bidang vulkanologi juga menjadi tantangan. Pendidikan dan pelatihan yang memadai diperlukan untuk menghasilkan tenaga ahli yang mampu mengoperasikan peralatan pemantauan dan menganalisis data.

 * Infrastruktur yang Kurang Memadai: Beberapa gunung api terletak di daerah yang sulit dijangkau, sehingga pembangunan infrastruktur pemantauan menjadi lebih kompleks dan mahal.
Upaya Peningkatan Pemantauan Gunung Api

 * Peningkatan Anggaran: Pemerintah perlu mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk kegiatan pemantauan gunung api. Anggaran yang memadai akan memungkinkan pengadaan peralatan yang lebih canggih dan peningkatan jumlah pemantau.

 * Pengembangan Teknologi: Pengembangan teknologi pemantauan berbasis remote sensing dan artificial intelligence dapat membantu meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemantauan.

 * Kerjasama Antar Lembaga: Perlu adanya kerjasama yang lebih erat antara lembaga-lembaga terkait, seperti Badan Geologi, BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah, dalam upaya pemantauan gunung api.

 * Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia: Pemerintah perlu memberikan perhatian yang lebih besar pada pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia di bidang vulkanologi.

 * Sosialisasi dan Edukasi: Masyarakat perlu diberikan sosialisasi dan edukasi mengenai risiko bencana gunung api dan cara-cara untuk mengurangi dampaknya.

Ketidakseimbangan antara jumlah pemantau gunung api dan jumlah gunung api tipe A di Indonesia merupakan masalah serius yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Dengan meningkatkan jumlah pemantau, mengembangkan teknologi pemantauan, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, diharapkan dapat mengurangi risiko bencana gunung api dan melindungi masyarakat.

Kamis, 07 November 2024

Gunung Iya Naik Status Siaga: Ancaman Erupsi dan Potensi Tsunami di Ende


Peningkatan status Gunung Iya di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, ke level III (Siaga) telah menyita perhatian publik. Ancaman erupsi langsung dan potensi terjadinya tsunami akibat aktivitas vulkanik menjadi perhatian utama.

Profil Gunung Iya
Gunung Iya merupakan gunung api stratovolcano yang terletak di bagian selatan Pulau Flores, Indonesia. Tercatat sebagai gunung api aktif, Gunung Iya memiliki ketinggian sekitar 637 meter di atas permukaan laut (mdpl). Secara geologis, gunung api ini terbentuk akibat proses subduksi Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Sunda. Posisi geografisnya yang berada di dekat pantai dan karakteristik letusannya yang eksplosif menjadikan Gunung Iya sebagai gunung api dengan potensi bahaya yang kompleks.

Tipe Letusan
Berdasarkan catatan sejarah dan data pemantauan, Gunung Iya memiliki karakteristik erupsi yang bervariasi, mulai dari tipe freatik hingga magmatik. Erupsi freatik umumnya ditandai dengan semburan uap air, abu vulkanik, dan material piroklastik akibat interaksi antara air tanah dengan magma panas. Sementara itu, erupsi magmatik melibatkan keluarnya magma segar ke permukaan, yang dapat menghasilkan aliran lava, awan panas, dan hujan abu dalam skala yang lebih besar.

Potensi Bahaya
 * Erupsi: Ancaman utama dari erupsi Gunung Iya adalah hujan abu vulkanik, aliran lava, dan awan panas. Abu vulkanik dapat mengganggu pernapasan, merusak tanaman, dan mengganggu aktivitas penerbangan. Aliran lava dapat menghancurkan pemukiman dan infrastruktur, sedangkan awan panas merupakan aliran padat yang sangat panas dan bergerak cepat, dapat membakar segala sesuatu yang dilaluinya.

 * Lahar: Material vulkanik yang tercampur dengan air hujan dapat membentuk lahar, aliran lumpur panas yang dapat bergerak dengan cepat dan menghancurkan segala sesuatu di jalurnya.

 * Tsunami: Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi terjadinya tsunami akibat runtuhan tubuh gunung api ke laut atau longsoran material vulkanik ke laut. Gelombang tsunami dapat menghancurkan kawasan pesisir dan menyebabkan korban jiwa yang besar.

Data Teknis dan Fisik Gunung Iya
 * Tinggi: Sekitar 637 meter di atas permukaan laut
 * Jenis Batuan: Dominan andesit dan basal
 * Sejarah Erupsi: Tercatat beberapa kali erupsi, dengan yang terakhir terjadi pada tahun 1969.
 * Zona Bahaya: Berdasarkan peta bahaya yang dikeluarkan oleh PVMBG, zona bahaya Gunung Iya mencakup wilayah sekitar puncak gunung dan beberapa desa di sekitarnya.

Mitigasi Bencana
Untuk mengurangi risiko bencana, beberapa langkah mitigasi yang perlu dilakukan antara lain:

 * Pemantauan Vulkanik: Melakukan pemantauan aktivitas vulkanik secara intensif menggunakan berbagai instrumen, seperti seismograf, tiltmeter, dan GPS.

 * Sistem Peringatan Dini: Membangun sistem peringatan dini yang efektif untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang potensi bahaya erupsi dan tsunami.

 * Evakuasi: Menyiapkan rencana evakuasi yang jelas dan melakukan simulasi evakuasi secara berkala.

 * Penyuluhan: Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang tanda-tanda bahaya erupsi dan cara-cara menyelamatkan diri.

 * Penguatan Infrastruktur: Memperkuat infrastruktur di daerah rawan bencana, seperti membangun bangunan tahan gempa dan tsunami.

Peningkatan status Gunung Iya menjadi level Siaga merupakan indikasi bahwa potensi bahaya erupsi dan tsunami semakin meningkat. Masyarakat di sekitar Gunung Iya dan pemerintah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Dengan memahami potensi bahaya dan mengikuti arahan dari pihak berwenang, diharapkan dampak negatif dari erupsi Gunung Iya dapat diminimalisir.
















Senin, 04 November 2024

Gunung Lamongan




Gunung Lamongan, dengan keindahan alamnya yang memukau, menyimpan potensi bahaya yang tak kalah besar. Terletak di Jawa Timur, gunung api ini telah menjadi saksi bisu dari sejarah letusan yang panjang dan dahsyat.

Profil Gunung Lamongan
Sebagai stratovolcano atau gunung api berlapis, Gunung Lamongan memiliki bentuk kerucut yang khas, terbentuk dari lapisan-lapisan lava, abu vulkanik, dan material piroklastik lainnya. Dengan ketinggian sekitar 1.671 meter di atas permukaan laut, gunung ini menjulang tinggi di antara pegunungan lainnya. Salah satu ciri khas Gunung Lamongan adalah keberadaan sekitar 64 pusat erupsi parasit, termasuk 37 kerucut vulkanik dan 27 maar yang membentuk danau-danau indah seperti Ranu Pakis, Ranu Klakah, dan Ranu Bedali.

Sejarah Letusan yang Panjang
Catatan sejarah mencatat bahwa Gunung Lamongan telah mengalami beberapa kali letusan besar. Letusan pertama yang tercatat terjadi pada tahun 1799. Sejak saat itu, gunung ini terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan frekuensi yang bervariasi. Beberapa letusan besar lainnya terjadi pada tahun 1898, di mana letusan dahsyat menghasilkan bukit baru yang disebut Gunung Anyar.

Dampak Letusan
Letusan Gunung Lamongan dapat menimbulkan dampak yang sangat merusak. Aliran lava panas, awan panas, dan hujan abu vulkanik dapat menghancurkan pemukiman penduduk, lahan pertanian, serta infrastruktur. Selain itu, lahar dingin yang terbentuk dari material vulkanik yang tercampur dengan air hujan juga dapat mengancam keselamatan masyarakat yang tinggal di lereng gunung.

Mitigasi Bencana
Untuk mengurangi dampak bencana akibat letusan Gunung Lamongan, berbagai upaya mitigasi telah dilakukan. Pemantauan aktivitas vulkanik secara intensif, pembuatan peta zona bahaya, serta sosialisasi kepada masyarakat mengenai tanda-tanda awal letusan dan cara evakuasi merupakan langkah-langkah penting dalam upaya mitigasi bencana.

Pentingnya Kesiapsiagaan
Masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Lamongan harus selalu meningkatkan kesiapsiagaan. Dengan mengetahui tanda-tanda awal letusan, seperti peningkatan aktivitas gempa vulkanik, peningkatan suhu kawah, atau perubahan bentuk tubuh gunung, masyarakat dapat segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman.

Potensi Bahaya yang Terus Mengintai
Meskipun aktivitas vulkanik Gunung Lamongan saat ini cenderung menurun, namun potensi bahaya letusan tetap ada. Perubahan iklim, aktivitas tektonik, serta faktor-faktor lainnya dapat memicu peningkatan aktivitas vulkanik. Oleh karena itu, pemantauan dan mitigasi bencana harus terus dilakukan secara berkelanjutan.

Keindahan Alam yang Memukau
Di balik potensi bahayanya, Gunung Lamongan juga menawarkan keindahan alam yang memukau. Danau-danau vulkanik, hutan yang lebat, serta udara yang sejuk menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki dan wisatawan.

Pentingnya Keseimbangan
Kita perlu memahami bahwa gunung api adalah bagian dari alam yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, kita harus belajar untuk hidup berdampingan dengan gunung api. Dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang gunung api, kita dapat mengurangi risiko bencana dan menikmati keindahan alam yang diberikan oleh alam.

Penelitian Lebih Lanjut
Penelitian tentang Gunung Lamongan masih terus dilakukan. Para ahli vulkanologi terus berupaya untuk memahami lebih dalam tentang mekanisme letusan, sejarah letusan, serta potensi bahaya yang ditimbulkan oleh gunung api ini.

Gunung Lamongan adalah gunung api yang unik dan kompleks. Dengan sejarah letusan yang panjang dan potensi bahaya yang signifikan, gunung ini menuntut kita untuk selalu waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan. Namun, di balik semua itu, Gunung Lamongan juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa.

Rabu, 25 September 2024

Erupsi Gunung Sinabung





Gunung Sinabung, gunung api stratovolcano yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia, terus menjadi pusat perhatian para vulkanolog dan masyarakat dunia. Aktivitas vulkaniknya yang tak kunjung surut telah memicu berbagai penelitian mendalam untuk memahami karakteristik letusannya dan dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat sekitar.

Sejarah Letusan dan Dampaknya
Seperti yang telah kita ketahui, Gunung Sinabung yang awalnya dianggap tidak aktif, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada tahun 2010. Sejak saat itu, letusan-letusan beruntun terjadi, menyebabkan kerusakan infrastruktur, pengungsian massal, dan kerugian ekonomi yang signifikan. Dampak dari erupsi Gunung Sinabung tidak hanya dirasakan oleh masyarakat sekitar, namun juga berdampak pada iklim global melalui emisi gas vulkanik.

Penelitian Terbaru Mengenai Gunung Sinabung

Beberapa penelitian terbaru telah memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang Gunung Sinabung.

 * Pola Erupsi yang Dinamis: Penelitian menunjukkan bahwa pola erupsi Gunung Sinabung sangat dinamis dan sulit diprediksi. Terdapat variasi dalam jenis letusan, mulai dari letusan efusif (aliran lava) hingga letusan eksplosif (awan panas). Hal ini menyulitkan para vulkanolog dalam membuat model prediksi yang akurat.

 * Sumber Magma: Penelitian geokimia menunjukkan bahwa magma yang keluar dari Gunung Sinabung berasal dari kedalaman yang berbeda-beda. Hal ini mengindikasikan adanya sistem magma yang kompleks di bawah gunung api tersebut.

 * Dampak Erupsi terhadap Iklim: Penelitian terbaru menunjukkan bahwa emisi gas vulkanik dari Gunung Sinabung dapat mempengaruhi iklim lokal dan regional. Partikel-partikel vulkanik yang terbawa angin dapat menghalangi sinar matahari dan menyebabkan penurunan suhu.

 * Mitigasi Bencana berbasis Masyarakat: Beberapa penelitian fokus pada upaya mitigasi bencana yang melibatkan masyarakat secara langsung. Pendekatan ini melibatkan edukasi, pelatihan, dan pembentukan kelompok-kelompok relawan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

 * Pemanfaatan Teknologi: Penggunaan teknologi seperti drone, satelit, dan sensor telah meningkatkan kemampuan dalam memantau aktivitas vulkanik Gunung Sinabung. Data yang diperoleh dari teknologi ini dapat digunakan untuk membuat model simulasi erupsi yang lebih akurat.

Meskipun telah banyak penelitian dilakukan, masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam upaya memahami dan menanggulangi bencana erupsi Gunung Sinabung. Beberapa di antaranya adalah:

 * Ketidakpastian: Aktivitas vulkanik merupakan fenomena alam yang sangat kompleks dan sulit diprediksi secara pasti.

 * Sumber Daya: Penelitian dan mitigasi bencana membutuhkan sumber daya yang cukup, baik dalam bentuk finansial maupun sumber daya manusia.

 * Kesadaran Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mitigasi bencana masih menjadi tantangan tersendiri.
Namun demikian, dengan semangat kolaborasi antara para ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat, diharapkan upaya untuk mengurangi dampak bencana erupsi Gunung Sinabung dapat terus ditingkatkan.

Gunung Sinabung telah mengajarkan kita banyak hal tentang kekuatan alam dan pentingnya kesiapsiagaan. Penelitian-penelitian terbaru memberikan harapan bagi kita untuk dapat lebih memahami dan mengantisipasi aktivitas vulkanik di masa depan.

Sabtu, 20 Juli 2024

Volcanic Radiative Power Gunung Merapi Dalam 24 Jam Terakhir (22.45 WIB 20/07/2024)



Berikut kami sampaikan pengamatan Volcanic Radiative Power VRP Gunung Merapi dalam 24 jam terakhir, Update pukul 22.45 WIB 20/07/2024. Dalam grafik ini nampak bahwa event Awan Panas Guguran yang terjadi pukul 19.46 WIB nampak merupakan aktifitas tertinggi VRP  dalam pengamatan 24 jam terakhir. 

Terjadi Awan Panas Guguran di Gunung #Merapi tanggal 20 Juli 2024 pada pukul 19:46 WIB


Terjadi Awan Panas Guguran di Gunung #Merapi tanggal 20 Juli 2024 pada pukul 19:46 WIB dengan Amplitudo max 35 mm, durasi 119 detik, jarak luncur 1200 meter ke arah Kali Bebeng, arah angin ke Barat Daya.
Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya yang direkomendasikan. 
#aktivitasmerapi  #siagamerapi

Senin, 15 Juli 2024

Data & Fakta Dinaikkannya Status Gunung Ijen dari Level I ( Normal ) ke Level II ( Waspada )

 


Peta Rekomendasi Gunungapi Ijen 13 Juli 2024



Grafik jarak permukaan kawah Ijen terhadap DAM, 1 Januari 2005 – 30 Juni 2024



Grafik suhu air permukaan kawah Ijen, 1 September 2011 – 30 Juni 2024




Grafik SSAM G. Ijen, 5 April 2024 – 12 Juli 2024



Grafik RSAM G. Ijen, 1 Januari 2023 – 12 Juli 2024



Grafik kegempaan G. Ijen, 1 Juni 2024 – 12 Juli 2024



Grafik kegempaan G. Ijen, 1 Juni 2024 – 12 Juli 2024










Minggu, 14 Juli 2024

Infomitigasi Tidak Mempunyai Akun di TikTok


Beberapa waktu yang lalu sempat ada follower yang menanyakan kepada kami apakah @Infomitigasi juga hadir di TikTok??

Pada kesempatan kali ini kami ingin mengklarifikasi bahwa 

"INFOMITIGASI Tidak Memiliki Akun Di Tiktok"

Berkaitan dengan hal tersebut bilamana ada pihak-pihak yang menggunakan nama Infomitigasi di tiktok maka dipastikan itu bukan konten yang kami buat. Akun Infomitigasi selalu menggunakan Logo yang sama seperti di bawah ini:






Sabtu, 13 Juli 2024

kenaikan status Gunung Ijen dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) Pada pukul 22.00 WIB


kenaikan status Gunung Ijen dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) Pada pukul 22.00 WIB. Jarak radius rekomendasi 1,5 KM dari kawah Ijen*

Surat resmi segera menyusul dan sedang diproses. 

*Badan Geologi - PVMBG*
*Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral*

#badangeologi #pvmbg #INFOGADANMKG

Rabu, 10 Juli 2024

Rangkuman kejadian guguran di Gunung Merapi periode 8 Juli 2024, pukul 00.00 - 24.00 WIB

 


Halo Warga Merapi!
Berikut disampaikan rangkuman pengamatan kejadian guguran di Gunung Merapi periode 8 Juli 2024, pukul 00.00 - 24.00 WIB. 
Tingkat Aktivitas Gunung Merapi saat ini SIAGA (Level III).


Selasa, 09 Juli 2024

Rangkuman pengamatan kejadian guguran dan awan panas guguran di Gunung Merapi periode 8 Juli 2024, pukul 00.00 - 24.00 WIB.



Halo Warga Merapi!

Berikut disampaikan rangkuman pengamatan kejadian guguran dan  awan panas guguran di Gunung Merapi periode 8 Juli 2024, pukul 00.00 - 24.00 WIB.

Senin, 08 Juli 2024

Rangkuman Pengamatan Kejadian Guguran di Gunung Merapi periode 7 Juli 2024, pukul 00.00 - 24.00 WIB


Halo Warga Merapi!

Berikut disampaikan rangkuman pengamatan kejadian guguran di Gunung Merapi periode 7 Juli 2024, pukul 00.00 - 24.00 WIB. Untuk memantau secara langsung visual Gunung Merapi terkini dapat dilihat pada tautan berikut: https://bit.ly/livestreamingbpptkg untuk informasi pesan siaran WhatsApp BPPTKG bisa diakses melalui tautan berikut: https://bit.ly/bpptkgchannel

Tingkat Aktivitas Gunung Merapi saat ini SIAGA (Level III).Tetap patuhi rekomendasi yaa.

 

Minggu, 07 Juli 2024

Rangkuman Pengamatan Guguran di G #Merapi periode 6 Juli 2024, pukul 00.00 - 24.00 WIB


Halo Warga Merapi!

Berikut disampaikan rangkuman pengamatan kejadian guguran di Gunung Merapi periode 6 Juli 2024, pukul 00.00 - 24.00 WIB. Untuk memantau secara langsung visual Gunung Merapi terkini dapat dilihat pada tautan berikut: https://bit.ly/livestreamingbpptkg untuk informasi pesan siaran WhatsApp BPPTKG bisa diakses melalui tautan berikut: https://bit.ly/bpptkgchannel

Tingkat Aktivitas Gunung Merapi saat ini SIAGA (Level III).Tetap patuhi rekomendasi yaa.

 

Jumat, 05 Juli 2024

Laporan infografis aktivitas Gunung Merapi periode 04 Juli 2024 pukul 00.00 - 24.00 WIB


Halo Warga Merapi! Berikut disampaikan laporan infografis aktivitas Gunung Merapi periode 04 Juli 2024 pukul 00.00 - 24.00 WIB. Tingkat aktivitas Gunung Merapi SIAGA (Level 3), tetap patuhi rekomendasi. Terimakasih.
https://bit.ly/bpptkgchannel
 #AktivitasMerapi #SiagaMerapi

Selasa, 02 Juli 2024

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNGAPI PERIODE PENGAMATAN 01-07-2024 00:00-24:00 WIB

*::::         MAGMA-VAR         ::::*
*:: Volcanic Activity Report ::*

*LAPORAN AKTIVITAS GUNUNGAPI*

*PERIODE PENGAMATAN*
01-07-2024 00:00-24:00 WIB

*GUNUNGAPI*
Merapi (2968 mdpl),
Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten,
Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah

*METEOROLOGI*
Cuaca cerah,berawan,mendung. Angin bertiup lemah,sedang ke arah barat,timur. Suhu udara 17-27 °C, kelembaban udara 45-97.6 %, dan tekanan udara 768-918.8 mmHg. 

*VISUAL*
● Gunung jelas,kabut 0-II,kabut 0-III,kabut 0-I. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan tinggi 50-75 m di atas puncak kawah. 
● Teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 1000 m mengarah ke .
● Teramati Guguran lava sebanyak 13 kali jarak luncur maksimal 1700 meter ke arah barat daya.

*KEGEMPAAN*
■ *Awan Panas Guguran*
(Jumlah : 1, Amplitudo : 33 mm, Durasi : 109.44 detik)
■ *Guguran*
(Jumlah : 57, Amplitudo : 2-31 mm, Durasi : 14-257.3 detik)
■ *Low Frekuensi*
(Jumlah : 5, Amplitudo : 3-6 mm, Durasi : 10.3-17.9 detik)
■ *Hybrid/Fase Banyak*
(Jumlah : 65, Amplitudo : 2-15 mm, S-P : 0.2-0.7 detik, Durasi : 4.2-7.8 detik)
■ *Vulkanik Dangkal*
(Jumlah : 8, Amplitudo : 22-56 mm, Durasi : 5.8-12.2 detik)
■ *Tektonik Jauh*
(Jumlah : 1, Amplitudo : 4 mm, S-P : 20.54 detik, Durasi : 132.9 detik)

*KETERANGAN LAIN*
NIHIL

*TINGKAT AKTIVITAS*
G. Merapi Level III (Siaga)

*REKOMENDASI*
1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
2. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
3. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
5. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.
6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

*PENYUSUN LAPORAN*
Yulianto

*SUMBER DATA*
KESDM, Badan Geologi, PVMBG
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG)
https://magma.vsi.esdm.go.id/

Senin, 01 Juli 2024

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNGAPI PERIODE PENGAMATAN 30-06-2024 18:00-24:00 WIB


*::::         MAGMA-VAR         ::::*
*:: Volcanic Activity Report ::*

*LAPORAN AKTIVITAS GUNUNGAPI*

*PERIODE PENGAMATAN*
30-06-2024 18:00-24:00 WIB

*GUNUNGAPI*
Merapi (2968 mdpl),
Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten,
Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah

*METEOROLOGI*
Cuaca cerah, berawan, dan mendung. Angin bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara 18.5-22 °C, kelembaban udara 71-98 %, dan tekanan udara 873.9-961.8 mmHg. 

*VISUAL*
● Gunung jelas hingga kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. 

*KEGEMPAAN*
■ *Guguran*
(Jumlah : 12, Amplitudo : 3-47 mm, Durasi : 34.7-168.3 detik)
■ *Hybrid/Fase Banyak*
(Jumlah : 17, Amplitudo : 3-17 mm, S-P : 0.5-0.7 detik, Durasi : 6-9.2 detik)
■ *Vulkanik Dangkal*
(Jumlah : 11, Amplitudo : 22-80 mm, Durasi : 6.8-15.7 detik)
■ *Tektonik Jauh*
(Jumlah : 1, Amplitudo : 10 mm, S-P : 31.8 detik, Durasi : 181.4 detik)

*KETERANGAN LAIN*
Teramati 9 kali guguran lava ke arah barat daya (Kali Bebeng ) dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter .

*TINGKAT AKTIVITAS*
G. Merapi Level III (Siaga)

*REKOMENDASI*
1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
2. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
3. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
5. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.
6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

*PENYUSUN LAPORAN*
Ahmad Sopari
Suraji

*SUMBER DATA*
KESDM, Badan Geologi, PVMBG
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG)
https://magma.esdm.go.id/v1/gunung-api/laporan

*Media Sosial PVMBG*
https://linktr.ee/PVMBG

Minggu, 30 Juni 2024

infografis aktivitas Gunung Merapi periode 29 Juni 2024 pukul 00.00 - 24.00 WIB



Halo Warga Merapi! Berikut disampaikan laporan infografis aktivitas Gunung Merapi periode 29 Juni 2024 pukul 00.00 - 24.00 WIB. Tingkat aktivitas Gunung Merapi SIAGA (Level 3), tetap patuhi rekomendasi. Terimakasih.
https://bit.ly/bpptkgchannel
 #AktivitasMerapi #SiagaMerapi

Sabtu, 29 Juni 2024

infografis aktivitas Gunung Merapi periode 28 Juni 2024 pukul 00.00 - 24.00 WIB.


Halo Warga Merapi! Berikut disampaikan laporan infografis aktivitas Gunung Merapi periode 28 Juni 2024 pukul 00.00 - 24.00 WIB. Tingkat aktivitas Gunung Merapi SIAGA (Level 3), tetap patuhi rekomendasi. Terimakasih.
https://bit.ly/bpptkgchannel
 #AktivitasMerapi #SiagaMerapi

Jumat, 28 Juni 2024

infografis aktivitas Gunung Merapi periode 27 Juni 2024 pukul 00.00 - 24.00 WIB


Halo Warga Merapi! Berikut disampaikan laporan infografis aktivitas Gunung Merapi periode 27 Juni 2024 pukul 00.00 - 24.00 WIB. Tingkat aktivitas Gunung Merapi SIAGA (Level 3), tetap patuhi rekomendasi. Terimakasih.
https://bit.ly/bpptkgchannel
 #AktivitasMerapi #SiagaMerapi

Kamis, 27 Juni 2024

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNGAPI PERIODE PENGAMATAN 26-06-2024 00:00-24:00 WIB

*::::         MAGMA-VAR         ::::*
*:: Volcanic Activity Report ::*

*LAPORAN AKTIVITAS GUNUNGAPI*

*PERIODE PENGAMATAN*
26-06-2024 00:00-24:00 WIB

*GUNUNGAPI*
Merapi (2968 mdpl),
Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten,
Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah

*METEOROLOGI*
Cuaca mendung,berawan. Angin bertiup lemah,sedang ke arah barat,timur. Suhu udara 16-26.6 °C, kelembaban udara 50-99 %, dan tekanan udara 768-918.5 mmHg. 

*VISUAL*
● Gunung kabut 0-III,kabut 0-II. Asap kawah tidak teramati. 

*KEGEMPAAN*
■ *Guguran*
(Jumlah : 56, Amplitudo : 3-45 mm, Durasi : 19.1-161.2 detik)
■ *Low Frekuensi*
(Jumlah : 5, Amplitudo : 3 mm, Durasi : 8.6-12.2 detik)
■ *Hybrid/Fase Banyak*
(Jumlah : 58, Amplitudo : 2-20 mm, S-P : 0.3-0.7 detik, Durasi : 5.8-8.8 detik)
■ *Vulkanik Dangkal*
(Jumlah : 16, Amplitudo : 21-80 mm, Durasi : 6.2-12.3 detik)

*KETERANGAN LAIN*
Teramati 17 kali Guguran lava ke arah Kali Bebeng (Barat daya) dengan jarak luncur maksimum 1.200 meter.

*TINGKAT AKTIVITAS*
G. Merapi Level III (Siaga)

*REKOMENDASI*
1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
2. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
3. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
5. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.
6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

*PENYUSUN LAPORAN*
Ahmad Sopari

*SUMBER DATA*
KESDM, Badan Geologi, PVMBG
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG)
https://magma.esdm.go.id/v1/gunung-api/laporan

*Media Sosial PVMBG*
https://linktr.ee/PVMBG